MANAJEMEN dan ORGANISASI

MANAJEMEN

Pengertian dan Peranan Manajemen

Istilah manajemen berasal dari kata to manage berarti control. Dalam bahasa indonesia dapat diartikan sebagai mengendalikan, menangani atau mengelola. Manajemen dapat diapandang sebagai ilmu dan seni. Manajemen sebagai ilmu artinya menejemen memenuhi kriteria ilmu dan metode keilmuan yang menekankan kepada konsep-konsep, teori, prinsip, dan teknik pengelolaan. Manajemen sebagai seni artinya kemampuan pengelolaan sesuatu itu merupakan seni menciptakan(kreatif). Hal ini merupakan keterampilan dari seseorang. Dengan kata lain, penerapan ilmu manajemen bersifat seni. Oleh karena itu manajemen adalah sesuatu yang sangat penting karena ia berkenaan dan berhubungan erat dengan perwujudan atau pencapaian tujuan.

Secara umum pengertian manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja.

 

Latar Belakang Sejarah Manajemen

Manajemen merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berkembang sekitar abad ke-19. Pada saat itu mulai ada tulisan-tulisan mengenai manajemen, seperti John Robert Beishline di dalam memecahkan masalah manajemen digolongkan ke dalam tiga golongan :

  1. Manajemen Konvensional : Manajer di dalam menghadapi suatu masalah, memecahkan dengan berdasarkan pada tindakan-tindakan yang diambilnya pada masa lalu. Jadi, selalu mendasarkan pada tradisi.
  2. Manajemen Sistematis : Manajer didalam menghadapi suatu masalah, mendasarkan dirinya pada pengalaman dan juga pengalaman orang lain. Jadi apa yang digunakan orang lain dengan berhasil maka dijadikan pedoman dan dipraktekannya
  3. Manajemen secara ilmu : Suatu cara yang berupa pengamatan dan analisis yang logis, yang menuju pada suatu rencana yang efektif

 

Fungsi dan Proses Manajemen

Fungsi -fungsi manajemen menurut George R. Terry yang membentuk manajemen sebagai salah satu proses adalah sebagai berikut:

(1)     Planning (Perencanaan)

Kegiatan yang menentukan berbagai tujuan dan penyebab tindakan-tindakan selanjutnya

(2)     Organizing (Pengorganisasian)

Kegiatan membagi pekerjaan diantara anggota kelompok dan membuat ketentuan dalam hubunngan-hubungan yang diperlukan

(3)     Actuating (penggerakkan)

Kegiatan menggerakkan anggota-anggota kelompok untuk melaksakan pekerjaan sesuai dengan tugas masing-masing.

(4)     Controlling (pengendalian)

Kegiatan untuk menyesuaikan antara pelaksanaan dan rencana-rencana yang telah ditentukan

 

Ciri-ciri Manager Profesional

Edgar H. Schein dan Borje O. Saxberg dalam Stoner James A.F dan Charles Wankel, 1988 merumuskan ciri-ciri orang profesional sebagai berikut :

  1. Orang-orang profesional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum, sehingga banyaknya kasus dan program latihan manajemen menunjukkan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebagai patokan khusus.
  2. Orang-orang profesional mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritisme atau faktor lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Walaupun belum ada standar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manejerial.
  3. Orang-orang profesional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena keprofesionalan pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya dan sebagai akibatnya, manager berada pada posisi yang rawan
  4. Borje O. Saxberg menyarankan karakteristik keempat dari profesionalisme yaitu pengabdian (dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap bidang orang-orang profesional menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.

 

ORGANISASI

Di dalam kehidupan manusia hampir setiap kebutuhan perseorangan adalah merupakan hasil kerja sama. Organisasi yang merupakan kegotongroyongan usaha dari manusia itu memnuhi segala kebutuhannya tidaklah mungkin ada bila tidak ada interaksi antara anggota-anggota masyarakat yang mewujudkan organisasi kerja itu. 

 

Definisi Organisasi

Dalam arti luas , pengorganisasian dapat didefinisikan sebagai porses penyesuaian struktur organisasi dengan tujuan, sumberdaya dan lingkungannya. Struktur organisasi dapat diartikan sebagai susunan dan hubungan antar komponen-komponen, bagian dan posisi dalam suatu perusahaan. Struktur organisasi merinci pembagian aktifitaskerja dan menunjukan tingkat spesialisasi dari suatu pekerjaan.

 

Bentuk-bentuk Organisasi

Bentuk struktur organisasi dapat dibagi menjadi 6 golongan :

  1. Organisasi Lini : Bentuk organisasi yang didalamnya terdapat garis wewenang yang menhubungkan langsung secara vertikal antara atasan ke bawahan.

Ciri-cirinya :

  1. Jumlah karyawan sedikit
  2. Selain top manajer, manajer dibawahnya hanya sebagai pelaksana
  3. Sarana dan alatnya terbatas
  4. Hubungan lini pada perusahaan perseorangan, pemilik perusahaan adalah top manajer

 

  1. Organisasi Fungsional : Suatu organisasi dimana wewengang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian yang mempunyai jabatan fungsional untuk dikerjakan kepada para pelaksana yang mempunyai keahlian khusus.

Ciri-Cirinya :

  1. Organisasi kecil
  2. Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok kerja staf ahli
  3. Spesialisasi dalam pelaksanaan tugas
  4. Target yang hendak dicapai jelas dan pasti
  5. Pengawasan dilakukan secara ketat

 

  1. Organisasi Garis dan Staff : Suatu bentuk organisasi dimana pelimpahan wewenang berlangsung secara vertical dan sepenuhnya dari pucuk pimpinan ke kepala bagian dibawahnya serta masing-masing pejabat, manajer ditempatkan satu atau lebih pejabat staff yang tidak mempunyai wewenang memerintah tetapi hanya penasihat, misalnya mengenai masalah kearsipan, keuangan, pertonel, dan sebagainya.

Ciri-cirinya :

  1. Hubungan atasan dan bawahan tidak seluruhnya secara langsung
  2. Karyawan banyak
  3. Organisasi besar
  4. Ada dua kelompok kerja dalam organisasi ditekankan adanya spesialisasi:

–          Personel lini

–          Personel staff

 

  1. Organisasi Fungsional dan Garis : Bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian dibawahnya yang mempunyai keahlian tertentu serta sebagian dilimpahkan kepada pejabat fungsional yang koordinasinya tetap diserahkan kepada kepala bagian.

Ciri-cirinya :

  1. Tidak tampak adanya pembedaan tugas pokok dan bantuan
  2. Spesialisasi secara praktis pada pejabat fungsional
  3. Pembagian kerja dan pelimpahan wewenang tidak membedakan perbedaan tingkat eselon.

 

  1. Organisasi Matrik : Disebut juga organisasi manajemen proyek yaitu organisasi Diana penggunaan struktur organisasi menunjukkan dimana para spesialis yang mempunyai keterampilan di masing-masing bagian dari kegiatan perusahaan dikumpulkan lagi menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek yang harus diselesaikan.

 

  1. Organisasai Komite : Bentuk organisasi dimana tugas kepeminpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board pluralistic manajemen.

Organisasi komite terdiri dari :

  1. Excecutive Committe (Pimpinan komite)
  2. Staff Committee : Orang-orang yang hanya mempunyai wewenang staf

 

 

 

Prinsip-prinsip Organisasi

Berkaitan dengan pembentukan atau penyusunan suatu organisasi, maka perlu diperhatikan beberapa prinsip-prinsip atau asas organisasi. Diantaranya adalah:

  • Perumusan Tujuan yang Jelas. Tujuan dan arah merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan suatu organisasi. Karena dari tujuan ini akan terlihat hasil yang akan dicapai baik itu secara fisik maupun non fisik.
  • Pembagian kerja. Dalam pembentukan suatu organisasi harus terlihat dengan jelas akan pembagian kerja dari masing-masing unit (sub) organisasi, hal ini supaya tidak terjadinya tumpang tindih aktivitas dan dapat menghambat tercapainya suatu tujuan.
  • Delegasi kekuasaan. Dengan adanya pembagian kerja tersebut yang jelas maka akan telihat pula garis komando dan delegasi kekuasaan (wewenang) dari masing-masing unit kerja.
  • Rentang kekuasaan. Rentang kekuasaan merupakan penjabaran dari pendelegasian suatu kekuasaan. Parameter dan tolok ukur pun harus menjadi bagian dari rentang kekuasaan, sehingga tidak timbul diktatoris kekuasaan atau kesewenangan kekuasaan tersebut.
  • Tingkat pengawasan. Penggambaran tingkat pengawasan yang timbul antar atasan dengan sub (unit) bawahannya harus lah terlihat dalam struktur organisasi tersebut. Sehingga batasan apa yang menjadi hak dan kewajiban baik itu atasan maupun bawahan akan tercipta.
  • Kesatuan perintah dan tanggung jawab. Dengan tergambarnya struktur organisasi yang jelas maka kesatuan perintah atau komando akan terlihat pula. Begitu juga dengan tanggung jawab dari orang yang memberikan delegasi (perintah) akan nampak.
  • Koordinasi. Ini pun harus terlihat dengan jelas dalam penyusunan suatu organisasi. Koordinasi dari masing-masing divisi atau unit kerja akan tercipta. Dengan demikian tujuan suatu organisasi ini akan semakin  cepat tercapai.

 

 

 

Sumber :

Yayat M . Herujito, Buku Dasar-Dasar Manajemen

Widiyatmini, Pengantar Bisnis, Gunadarma, Jakarta, 1992

http://belajarmanagement.wordpress.com/2010/02/25/prinsip-prinsip-organisasi/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s